Kamis, 14 April 2016

Manaqib Datu Abulung (Syekh Abdul Hamid Abulung)


MANAQIB Datu Abdul Hamid Abulung

SEORANG ulama yang pernah menggemparkan Kalimantan dengan paham wihdatul
wujud-nya. Beliau memang tak banyak yang mengetahui karena beliau tidak meninggalkan kitab karangan seperti ulama-ulama lainnya. Keilmuan beliau cuma dapat kita ketahui secara lisan dari mulut ke mulut atau dari pewaris para murid beliau. Banyak pendapat yang berbeda tentang kisah beliau, ada yang menyatakan bahwa ilmu beliau salah atau manyalah (bahasa banjar) tapi sebagian masyarakat banjar bahkan hampir seluruhnya menyatakan bahwa Datu Abulung adalah seorang wali Allah, terlepas dari segala kontroversi yang ada riwayat beliau sangat dicari oleh sebagian masyarakat banjar. Dalam sejarah pemikiran keagamaan di Kalimantan pada abad ke 18, setidaknya ada tiga tokoh ternama di kerajaan Banjar selain Datu Suban dan para muridnya yang sakti mandraguna, pada masa itu para ulama banjar
memang sangat terkenal dengan segala karamah dan kesaktiannya, di antara tiga orang tokoh
ternama dan terkenal tersebut adalah:
1.      Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan
2.      Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari atau Datu Nafis
3.      Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu abulung Dan sosok Datu Abulung inilah yang   penuh misteri hingga saat ini.
Pada masa itu, pemerintahan kerajaan diperintah oleh sultan Tahlilullah. Saat itulah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan Syekh Abdul Hamid muda diberangkatkan oleh kerajaan Banjar untuk menuntut ilmu dengan biaya kerajaan dengan harapan nantinya bisa membawa sinar terang bagi kerajaan Banjar. Mereka diberangkatkan keTanah Suci Makkah Al Mukarramah, tercatat Datu Kalampayan belajar kepada beberapa orang guru (baca riwayat Datu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari).
Sedangkan Datu Abulung juga belajar kepada beberapa orang guru yang sayangnya tidak tercatat karena tidak adanya karangan beliau yang biasanya merujuk kepada guru guru pengarang. Sepulangnya dari menuntut ilmu di tanah suci, Datu Syekh Abdul Hamid mulai mengajarkan ilmu yang didapatnya kepada masyarakat sekitarnya. Diantara yang beliau ajarkan adalah ilmu Tasawuf, namun ilmu tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat. Datu Abulung mengajarkan bahwa; Tiada yang maujud hanya Dia Tiada maujud lain-Nya Tiada aku melainkan Dia Dia adalah aku aku adalah Dia Dalam pelajaran Syekh Abdul Hamid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit belum sampai kepada isi (hakikat). Sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum adalah "Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah, Allah adalah Khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu bagi-Nya." Ajaran Datu Abulung ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid Al Bustami, husein bin Mansyur Al- Hallaj yang kemudian memasuki Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin disumatera dan Syekh Siti Jenar di pulau Jawa.
Mendengar fatwa Datu Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut,bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke telinga Sultan. Sebelum Datu Abulung dipanggil sultan terlebih dahulu minta pendapat syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (satu riwayat mengatakan tanpa diketahui Syekh Muhammad Arsyad) tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah beberapa kitab kemudian diambil kesimpulan bahwa ajaran yang dibawa Datu Abulung yang diajarkan kepada orang awam tersebut bisa menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama. Adalah kewajiban Ulama dan Umara melindungi keagamaan rakyatnya dari unsur-unsur yang membahayakan, jika tidak dapat dengan jalan damai maka lebih baik menyingkirkannya. Menolak mafsadah (keburukan) lebih didahulukan dari pada mengambil manfaat. Melenyapkan seseorang untuk menyelamatkan orang banyak dibolehkan menurut hukum malah terkadang wajib (Zafri Zam Zam,Syekh Muhammad Arsyad Al- Banjari,1979,hal 13).
Berdasarkan keputusan tersebut maka dipanggillah Datu Abulung. Salah seorang prajurit kerajaan disuruh untuk mendatanginya. Sesampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau, satu riwayat menceritakan pemanggilan tersebut,prajurit itu berkata, "Haai Syekh Abdul Hamid ..Anda dipanggil baginda Sultan," kemudian dijawab oleh Datu Abulung, “Syekh Abdul Hamid tidak ada yang ada hanya Allah…"Mendengar hal tersebut prajurit mengadukan kepada Sultan, kemudian Sultan menyuruh kembali dan memanggil “Allah “ tersebut. Setelah sampai di tempat Datu Abulung prajurit itu kembali berkata, “Hai Allah Anda dipanggil baginda Sultan.” Yang kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung, “Allah tidak ada yang ada hanya Nur Muhammad.” Mendengar hal itu prajurit kembali ke kerajaan dan mengatakan hal tersebut kepada Baginda Sultan.. kemudian Sultan berkata panggil ketiganya, Syekh Abdul Hamid, Allah dan Nur Muhammad, setelah prajurit tersebut memanggil seperti dipesankan Sultan barulah Datu Abulung berkunjung ke istana. Di tengah perjalanan menuju istana dipasanglah perangkap yang apabila terpijak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu terbukti kebenaran ajaran Syekh Abdul Hamid Abulung, ketika beliau menginjak perangkap tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya di udara dan berhenti tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya. Setelah sampai di istana dan terjadi tanya jawab, Sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Abulung, kemudian beliau berucap "Ashadu alla ilahaillallah" tiba- tiba tubuh beliau menghilang, kemudian terdengar lagi suara “wa ashadu anna muhammadarrasulullah” timbullah kembali badan beliau. Semua orang kagum melihat hal tersebut, tapi dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka dihukumlah Syekh Abdul Hamid Abulung dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan di sungai Lok Buntar, maka akhirnya tenggelamlah sampai ke dasar.
Tanpa diketahui oleh semua orang suatu keanehan terjadi, apabila tiba waktu sholat fardhu maka kerangkeng tersebut akan muncul ke permukaan, dan beliau kemudian keluar dari kerangkeng tersebut untuk melakukan sholat. Selesai sholat secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai. Pada suatu malam menjelang subuh, sepuluh orang pencari ikan melakukan aktivitasnya di sekitar tenggelamnya Syekh Abdul Hamid. Lamat-lamat mereka mendengar suara adzan. Perlahan lahan mereka dekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka melihat dan mengamati keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut.
Sejak saat itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar berbagai ilmu agama Islam. Karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakan Orang Sepuluh atau sekarang orang menyebutnya "Datu Sepuluh". Selesai belajar Datu Sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan. Setelah direndam dalam air Datu Abulung tidak juga mati. Peristiwa itu akhirnya diketahui pihak kerajaan. Datu Abulung pun dikeluarkan dari kerangkeng dan kembali dibawa ke kerajaan. Di hadapan Sultan akhirnya Datu Abulung megatakan bahwa beliau tidak bisa dibinasakan dengan alat apapun kecuali dengan senjata yang ada di dinding rumah beliau dan menancapkannya di dalam lingkaran yang beliau tunjukkan di belikat beliau. Setelah sholat dua rakaat, senjata tersebut ditancapkan di belikat yang sudah ditandai tersebut maka memancarlah darah segar dan anehnya darah tersebut membentuk kalimat ”LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH”‘ innaa Lillaahi wa Innaa ILaihi Rajiuun. Setelah sekian lama, kubur beliau akhirnya ditemukan oleh masyarakat atas petunjuk dari Alm.Tuan Guru H.Muhammad nor Tangkisung yang juga diyakini adalah seorang Kekasih Allah. Letaknya sebelah hilir dari Kampung Dalam Pagar, dan sekarang dipelihara makamnya oleh warga setempat. Selain itu keanehan makam yang terletak di pinggir sungai itu beberapa kali tergerus air sungai dan turun ke
bawah, tetapi anehnya makam itu naik dengan sendirinya dan tanah di bawahnya juga mengikuti makam tersebut….walllahu a’lam.

Dunia ini terdiri dari kertas--kertas

Akte kelahiran... adalah kertas.
Kartu imunisasi... kertas.
Piagam kelulusan... kertas.
Ijazah... juga kertas. --- semuanya hanya berupa kertas!! --- Akad nikah... kertas.
Paspor... kertas.
Surat kepemilikan rumah... juga kertas.
Resep dokter... kertas.
Undangan acara... juga kertas. .
Kehidupan kita layaknya kertas-kertas.
Seiring waktu berlaku, dirobek, kemudian dibuang..
Dunia itu semuanya terdiri dari kertas2..
Berapa banyak orang bersedih karena "kertas-kertas" yg dimilikinya..
Dan berapa banyak orang begitu bahagia dengan "kertas-kertas" yg dimilikinya..
Tetapi, ada satu lembar kertas yg tidak mungkin dilihat manusia selamanya, yaitu: SURAT KEMATIAN..
Maka persiapkanlah untuk menghadapi kematian, karena itu adalah KERTAS terpenting..


Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
Dua hal yg tidak akan kekal dalam diri seorang mukmin: "masa mudanya dan kekuatannya.".
Dan dua hal yg berguna untuk setiap mukmin: "akhlak yang mulia dan jiwa yang lapang"..
Dan dua hal pula yg akan mengangkat derajat seorang mukmin: "sikap tawadhu (rendah hati) dan menolong kesulitan orang lain"..
Dan dua hal pula yg menjadi penolak bala': "sedekah dan silaturahmi". Ada tiga fase hidup yg tampak lucu:
1. Masa puber: anda punya waktu dan kekuatan tetapi tidak punya uang.
2. Masa bekerja: anda punya harta dan kekuatan, tetapi tidak punya waktu.
3. Masa tua: anda punya harta dan punya waktu, tetapi tidak punya kekuatan.
Inilah kehidupan, ketika kita mendapat sebuah karunia. Maka akan hilang karunia lainnya.
Anda selalu yakin bahwa kehidupan orang lain, selalu lebih baik dari kehidupan kita !!! Dan orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita lebih baik darinya.
Hal itu dikarenakan kita melupakan hal terpenting dalam hidup kita, yaitu bersikap Qanaah (mensyukuri apa yang kita miliki).


#Sayyid Prof.Dr. Muhammad Fadhil al Jailany

Otobiografi ringkas Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib



Imam Hasan (th. 3-4 Hijriyah / th. 625-699 Masehi) bin ‘Ali Bin Abi Thalib Bin Abdul Muthalib Bin Hasyim Bin Abdu Manaf Al-Quraisy Al-Hasyimi, cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah anak pertama Sayyidatuna Fathimah Az-Zahra putri Rasulullah SAW.
Imam Hasan dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadhan di Madinah Al-Munawwarah tahun 3 Hijriyah. Ummu Al-Fadhl (Isteri Al-Abbas) berkata, “Wahai Rasulullah, saya bermimpi seakan-akan salah satu dari anggota badanmu ada di rumahku.” Rasulullah SAW menjawab, “Kamu bermimpi sesuatu yang baik. Fathimah akan melahirkan seorang anak laki-laki, lalu kamu akan menyusuinya dengan air susu anakmu.” Ali bin Abi Thalib r.a, berkata, “Ketika Hasan dilahirkan, Rasulullah SAW datang seraya bersabda, “Tunjukkan cucu saya kepadaku. Kamu namakan siapa dia?” Saya (‘Ali) menjawab, “Saya menamakannya dengan Harb (ahli perang).” Rasulullah bersabda, “Tetapi sebaiknya dia bernama Hasan.” Ketika Husain lahir, kami menamainya dengan Harb, tetapi Rasulullah SAW bersabda, “Dia bernama Husain.” Ketika anak ketiga lahir, Nabi SAW bertanya, “Tunjukkan cucuku kepadaku, kamu namai siapa dia?” saya menjawab, “Saya menamainya dengan Harb.” Beliau bersabda, “Dia Muhsin.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Saya menamakan mereka seperti anak-anak Harun, Syabr, Syabit, Musybir.” Muhsin meninggal pada saat dia masih kecil.”
Imam Hasan adalah seorang yang pandai, mulia, wara’, tenang, dermawan, terpuji, pemurah, senang berdamai, benci fitnah dan pertumpahan darah. Sayyidina Hasan memiliki 11 orang anak, mereka adalah:
1.      Zaid,
2.      Hasan,dan ibunya bernama Khaulah bintu Manshur Al-Fazariyah,
3.       Al-Qasim,
4.       Abu Bakr,
5.       Abdullah,
yang kelimanya terbunuh bersama pamannya Husain bin Ali di Thuff, yaitu daerah pesisir Kufah dari jalan darat yang di dalamnya terjadi pembunuhan Husain bin Ali r.a,
6.       ‘Amru,
7.       Abdurrahman,
8.       Hasan yang dijuluki dengan Al-Asyram,
9.       Muhammad,
10.   Ya’qub,
11.   Ismail.
Imam Hasan meninggal di Madinah tahun 49 Hijriyah, setelah kepemimpinan Mu’awiyah berlangsung sepuluh tahun. Beliau dimakamkan di Baqi’ dan Sa’id bin Al-‘Ash yang menjadi gubernur Madinah menshalatinya.
Imam Hasan telah diracun oleh isterinya, Ja’dah bintu Asy’ats bin Qays Al-Kindi. Hasan mengalami sakit selama 40 hari.
Imam Husain menghadap Imam Hasan r.a, lalu Imam Hasan berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku diracun tiga kali.” Dan ketika menjelang wafat, Imam Hasan berkata kepada Imam Husain, saudaranya, “Wahai saudaraku, sesungguhnya ayah kita r.a, ketika Rasulullah SAW meninggal, dia sudah dekat dengan kepemimpinan dan berharap dapat memegangnya setelah beliau. Tetapi Allah menjauhkan kepemimpinan itu darinya, dan menyerahkannya kepada Abu Bakar. Ketika Abu Bakar wafat, beliau juga menginginkan khalifah itu, tetapi ternyata kekhalifahan diberikan kepada Umar. Ketika Umar meninggal, lalu diangkatlah Dewan Enam untuk bermuryawarah dan beliau menjadi salah satu anggota dewan itu. Tidak diragukan lagi bahwa mereka tidak menginginkan beliau sehingga menyerahkan kekhalifahan kepada Utrman. Ketika Utsman meninggal, beliau (‘Ali) dibaiat sebagai khalifah kemudian dikudeta hingga terjadi peperangan, sehingga beliau tidak memegang jabatan itu secara mulus. Demi Allah, saya berpendapat bahwa Allah tidak mengumpulkan dalam diri kita Ahlul Bait antara kenabian dengan kekhalifahan. Saya benar-benar tidak tahu, saya mengkhawatirkanmu, orang-orang bodoh dari penduduk Kufah akan mengusirmu. Saya telah meminta kepada ‘Aisyah, jika saya meninggal agar diizinkan kepadaku untuk dikuburkan dirumahnya bersama Rasulullah SAW, Dia menjawab, “Ya”, jika dia berkenan kuburkanlah aku dirumahnya. Tetapi saya mengira, orang-orang akan mencegahku jika kamu ingin melakukan hal itu. Jika mereka melakukan pencegahan tersebut, maka janganlah kamu melawan mereka, tetapi kuburlah aku di Baqi’ Al-Gharqad.”
Ketika Imam Hasan meninggal, Imam Husain mendatangi ‘Aisyah meminta kepadanya untuk mengubur Sayyidina Hasan di rumahnya, dan Aisyah menjawab, “Ya, dengan senang hati.” Tetapi berita itu sampai kepada Marwan. Dia berkata, “Husain dan Aisyah berdusta. Demi Allah, Hasan tidak boleh dikuburkan di sana selamanya. Mereka melarang Utsman untuk dikuburkan di rumah Aisyah, tetapi mereka akan menguburkan Hasan di sana.” Sampailah berita pertengkaran itu kepada Abu Hurairah seraya berkata, “Demi Allah, melarang Hasan dimakamkan bersama Rasulullah SAW ini adalah kezhaliman, karena dia adalah cucu Rasulullah SAW.” Lalu Abu Hurairah mendatangi Husain dan berkata, “Jika kamu takut akan terjadi peperangan maka kuburkan beliau di kuburan kaum muslimin.” Akhirnya Husain membawa Hasan ke Baqi’. Dan saat itu tidak ada dari keturunan Bani Umayyah yang menyaksikan penguburan itu selain Sa’id bin Al-Ash. Hasan dikuburkan disamping neneknya, Fathimah bintu Asad. Sedangkan usia Hasan pada meninggal itu adalah 47 tahun dan masa kekhalifahannya berlangsung enam bulan lima hari.

Senin, 14 Maret 2016

Teks Syair Do'au Tholabah



صَلَاةُ اللهِ وَسَلَامْ  * عَلَى مَنْ أُحِيَ الْقُرْآنْ
وَآلِ بَيْتِهِ الْكِرَامْ * وَصَحْبِهِ ذَوِىْ الْقُرْآنْ
v                       يَا مَنْ يَرى وَلاَ يُرى * وَفَضْلُهُ عَمَّ الْأَنَامْ
(يَا مَنْ يَرى وَلاَ يُرى * وَفَضْلُهُ عَمَّ الْأَنَامْ)
يَسِّرْلَنَا أُمُوْرَنَا * بِجَاهِ صَاحِبِ الْقُرْآنْ
v                       وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا * بِمَا حَوى بِهِ الْقُرْآنْ
(وَزِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا * بِمَا حَوى بِهِ الْقُرْآنْ)
وَوَسِّعْ مَا رَزَقْتَنَا * بِجَاهِ مُنْزَلِ الْقُرْآنْ
v                       وَاجْمَعْ اَرَاءَ الزُّعَمَا * مُطَابِقًا مَا فِى الْقُرْآنْ
(وَاجْمَعْ اَرَاءَ الزُّعَمَا * مُطَابِقًا مَا فِى الْقُرْآنْ)
رَخَا اَمَانًا مُوَحَّدًا * بَرَآءَةً مِنَ الظُّلْمَانْ
v                       وَارْفَعْ شُئُوْنَ الرَّعَايَا * مِنَ الْجَهَالَةْ وَالْخِذْلاَنْ
(وَارْفَعْ شُئُوْنَ الرَّعَايَا * مِنَ الْجَهَالَةْ وَالْخِذْلاَنْ)
مُسَاوِيًا بَلِ اعْتَلَى * بَيْنَ الْبُلْدَانِ فِى الْعَالَمْ
v                       اَمِيْن اَمِيْن اَمِيْن اَمِيْن* اَمِيْن يَارَبَّنَا اَمِيْن
(اَمِيْن اَمِيْن اَمِيْن اَمِيْن* اَمِيْن يَارَبَّنَا اَمِيْن)
دَعَوْتُكَ الله يَارَبَّنَا * وِنْتَ مُجِيْبَ السَّائِلِيْن
اَمِيْن اَمِيْن اَمِيْن اَمِيْن* اَمِيْن يَارَبَّنَا اَمِيْن
قَبُولْ قَبُولْ قَبُولْ قَبُولْ * قَبُولْ دُعَائَنَا مَقْبُولْ

Ringkasan Ekonomi Bab Manajemen XII



BAB I
MANAJEMEN
Ilmu Manajemen lahir pada akhir abad ke 19. Gerakan manajemen ilmiah dipelopori oleh Frederich W. Taylor pada tahun 1886 di AS. 
Frederich W. Taylor dijuluki sebagai Bpk Manajemen Ilmiah. Dan Henry Fayol dijuluki sebagai Bpk Ilmu Manajemen, yang merumuskan 14 prinsip umum manajemen.

Unsur-unsur manajemen menurut manullang sebagai berikut:
1.      Manusia
2.      Material
3.      Mesin

4.      Metode
5.      Uang
6.      Pasar

Jenis-jenis keterampilan dasar yang diperlukan manajer (menurut Robert Z. Katz):
1.      Keterampilan konsep
2.      Keterampilan manusiawi
3.      Keterampilan teknik

Fungsi manajemen menurut para ahli
·         Henry fayol:
1.      Planning (perencanaan)
2.      Organizing (pengorganisasian)
3.      Commanding (pemberian komando)
4.      Coordinating (pengkoordinasian)
5.      Controlling (pengawasan)
·         Harold Koontz dan O’donnell: (banyak dianut oleh ahli-ahli lain)
1.      Planning (perencanaan)
2.      Organizing (pengorganisasian)
3.      Staffing (pengisian jabatan)
4.      Directing (pengarahan)
5.      Controlling (pengawasan)
Planning (perencanaan)
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam perencanaan:
1.      Memahami sifat hakiki masalah yg dihadapi
2.      Mengumpulkan data yang diperlukan
3.      Menganalisis data
4.      Menentukan beberapa alternatif cara
5.      Memilih cara yang dianggap baik
6.      Melaksanakan pembuatan rencana
7.      Menilai hasil perencanaan
Organizing (pengorganisasian)
Asas-asas yang harus diperhatikan dalam penyusunan bagan struktur organisasi:
1.      Perumusan tujuan organisasi secara jelas
2.      Pembagian tugas pekerjaan
3.      Delegasi wewenang
4.      Rentangan pengawasan
5.      Tingkat pengawasan
6.      Kesatuan perintah serta tanggung jawab
Bentuk-bentuk organisasi:
1.      Organisasi bentuk lurus/garis
2.      Organisasi bentuk fungsional/staf
3.      Bentuk gabungan antara organisasi lurus dan organisasi fungsional/staf

Bidang-bidang manajemen:
Manajemen produksi
Manajemen pemasaran
Manajemen keuangan/manajemen permodalan
Manajemen personalia
Manajemen administrasi/akuntansi
 

Bidang-bidang manajemen:
1.      Manajemen produksi
Meliputi perencanaan sistem produksi, perencanaan dan penyelenggaraan proses produksi
2.      Manajemen pemasaran
Mencakup tugas mengombinasikan unsur-unsur kebijakan produk, harga, promosi, dan distribusi
Agen adalah perantara yang menjual barang hasil produksi perusahaan
Makelar adalah perantara yg menjualkan atau membelikan barang atas nama org lain
Komisioner adalah perantara yg menjualkan atau membelikan barang atas namanya sendiri
3.      Manajemen keuangan/manajemen permodalan
Mencakup tugas-tugas penanganan meliputi kebutuhan modal, sumber modal, dan analisis laporan keuangan.
Kegiatan pencarian sumber dana disebut pembelanjaan pasif (menerima dana)
Kegiatan penggunaan dana disebut pembelanjaan aktif (menggunakan dana)
Analisis-analisis di dalam laporan keuangan:
·         Likuiditas (kemampuan membayar kewajiban jangka pendek, seperti utang,gajih)
·         Solvabilitas (kemampuan membayar seluruh kewajiban jangka pendek/panjang)
·         Rentabilitas (kemampuan perusahaan dalam menciptakan laba)
4.      Manajemen personalia
Mencakup tugas-tugas penerimaan dan seleksi karyawan, pelatihan dan pengembangan karyawan.
Hubungan kerja industrial merupakan bagian dari manajemen personalia yang dikenal dengan hubungan industrial pancasila di dalamnya terdapat tiga pihak yang disebut triparti yaitu:
·         Pengusaha
·         Organisasi pekerja (karyawan)
·         pemerintah
5.      Manajemen administrasi/akuntansi
Mencakup penanganan pengadministrasian atau penatausahaan seluruh kegiatan badan usaha. Bidang-bidang akuntansi:
·         Akuntansi keuangan
·         Akuntansi biaya
·         Akuntansi manajerial