Selasa, 04 Januari 2022

Sekilas tentang sejarah Mesjid

SEJARAH PERKEMBANGAN MASJID

Ada tiga kebudayaan penting yang sangat berpengaruh pada Zaman sebelum kebudayaan Islam lahir. Kebudayaan-kebudayaan itu ikut serta nantinya mewarnai kebudayaan Islam yang muncul kemudian. 

Pertama, kebudayaan Romawi yang berkembang sekitar tahun 142 SM sampai 550 M. Bangsa Romawi mula-mula menaklukkan Yunani yang telah memiliki kebudayaan yang cukup tinggi. Namun demikian kebudayaan Yunani ini tidaklah diterima begitu saja oleh Bangsa Romawi, akan tetapi diadakan pembaharuan, perubahan dan pengembangan. Dengan demikian kebudayaan Romawi akhirnya merupakan kebudayaan yang memiliki mutu dan tingkatan yang tinggi, meskipun awalnya mengambil intisari kebudayaan Yunani. Kebudayaan ini dilanjutkan dengan kebudayaan Bizantium sekitar tahun 550 sampai 1453 M yang merupakan kegemilangan Romawi Timur dengan pusat di Konstantinopel. Pada masa pemerintahan Kaisar Yustianus I (527 – 565 M) kebudayaan Romawi sampai pada puncak keemasan, seni rancang bangun tumbuh dengan pesatnya. Patung-patung banyak didirikan, juga bangunan gereja berkubah antara lain yang cukup terkenal gereja Agya Sophia dan lain sebagainya.

Kedua, kebudayaan Persia. Negeri Persia dan Negeri Romawi Timur merupakan dua imbangan kekuasaan yang selalu bersaing dan bermusuhan. Kebudayaan Persia diawali oleh kebudaan Mesopotamia, Babilonia, Assiria dan Sassanid. Bangsa Persia lama menyembah api yang merupakan lambang Tuhan, sehingga api selalu dinyalakan di setiap tempat-tempat ibadah mereka. Peninggalan-peninggalannya berupa reruntuhan istana di Babilon, Sussa, Persepolis, Assiria. Negeri Persia di bawah pimpinan Anusyirwan dengan kekuatan bala tentaranya menyerbu dan mengalahkan daerah-aerah Romawi Timur, maka terjadilah peperangan besar selama 20 tahun, yakni antara 541 – 561 M, dan berakhir dengan perdamaian dimana Kaisar Yustianus harus membayar upeti kepada Anusyirwan sebesar 30.000 dinar setiap tahunnya. Namun akhirnya perdamaian ini hanyalah diatas kertas saja, sebab pemusuhan antara kedua bangsa ini terus berlangsung, hingga akhirnya keduanya mengalami kemunduran

Ketiga, kebudayaan Arab Jahiliyah. Dalam masa ini orang Arab telah terbagi menjadi beberapa suku yang tidak jarang antara suku yang satu dengan yang lain saling bermusuhan, namun yang kiranya perlu diketahui adalah daerah mereka, yakni Hejaz adalah merupakan daerah yang berdaulat dan tidak pernah menjadi jajahan kerajaan-kerajaan besar Romawi dan Persia. Dalam bidang social mereka memiliki beberapa sifat terpuji, seperti: setia kawan, menepati janji, menghormati tamu, dan yang tak kalah pentingnya adalah di tempat ini terdapat suatu bangunan suci yang bernama Ka’bah.

PERKEMBANGAN MESJID DARI ZAMAN KE ZAMAN

A. Masjid Zaman Nabi Muhammad SAW

Pada Zaman nabi Muhammad SAW masjid yang pertama kali dibangun adalah Masjid Quba, masjid ini awalnya merupakan pelataran yang kemudian dipagari dengan dinding tembok yang cukup tinggi. Pada saat itu bangunannya masih amat sederhana, tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang pohon kormadan atapnya terbuat dari pelepah daun korma yang dicampur atau diplester dengan tanah liat, mimbarnya juga terbuat dari potongan batang-batang pohon korma yang ditidurkan dan ditumpuk tindih-menindih. Selain itu, di Madinah juga di bangun Masjid Nabawi dengan pola yang sama dengan Masjid Quba, yaitu berbentuk segi empat panjang berpagar tembok tinggi. Pola awal ini memang cenderung mengarah pada bentuk yang fungsional sesuai kebutuhan yang diajarkan Nabi, yaitu masjid sebagai saran kegiatan ibadah maupun muamalah. Masjid Nabawi yang awalnya berbentuk sederhana ini nantinya diperluas dan dibangun kembali dengan megah oleh kholifah Al Walid pada tahun 706 M.


B. Masjid Zaman Khalifah

Pada Zaman Kholifah, pembangunan dan penyempurnaan masjid ini juga terus berlangsung, tercatat masa kepemimpinan Kholifah Umar dilakukan pembangunan kembali Masjidil Haram yang sebenarnya telah ada sejak Nabi Ibrahim. Masjid ini juga masih dalam bentuk sederhana dan mengarah ke sifat fungsional, seperti halnya Masjid Nabawi. Selain itu juga dibangun Kufah (637 M) akan tetapi yang agak ganjil, masjid ini tidak dikelilingi tembok batu atau tanah liat yang tinggi, melainkan dibatasi dengan adanya kolam air. Pada bangunan ini, bagian Liwan (tempat shalat) tiangnya terbuat dari mamer yang dulunya berasal dari Istana Hirah Kerajaan Parsi. Pola arsitektur masjid pada Zaman ini cukup sederhana namun memilki kegunaan yang optimal. Bangunan masjid terdiri dari sebuah tanah lapang dengan diberi dinding keliling sehingga membentuk bagian Shaan (halaman dalam) dan Liwan (tempat shalat). Sampai pada akhir kekhalifahan ini, yakni masa Ali, pola yang dianut masih tetap pola awal, yakni pola empat persegi panjang dengan berdinding tembok tinggi yang didalamnya terdapat Shaan Liwan, Riwaqs (serambi).

C. Masjid Zaman Daulah Umayyah

Pada masa ini bentuk bangunan masjid masih tetap memakai pola Masjid Kufah yang berciri: Shaan, Liwan dan Riwaq denga tembok keliling, namun terdapat adanya penambahan yakni adanya satu kubah didekat mihrab serta adanya sistim struktur relung yang terbuat dari susunan batu cadas yang diplester dengan diperkaya dengan ornamen dekoratif bermotif geometri atau motif-motif tumbuhan. Dinasti Umayyah ini juga membangun Masjid Jamik di Damaskus yang cukup megah, masjid ini pada tahun 1483 M terbakar sebagian dan oleh Sultan Mamluk dari Mesir dibangun kembali dan diberi nama Masjid Keit Bey. Pola dan organisasi ruang dari Masjid Keit Bey yang demikian megah ini, kemudian amat berpengaruh pada pembangunan masjid bertiang banyak pada Zaman kemudian, seperti Masjid Qoiruan dekat Tunis yang terkenal dengan menara tuanya. Pada masa kekuasaan Bani umayyah ini pula, tepatnya pada saat Kholifah Abdul Malik (685-688 M) dibangunlah Qubah Al Sakhra (Dome of the Rock) di Yerusalem tempat dimana Nabi Muhammad dahulu memulai naik ke langit pada saat menjalankan Isra’ dan Mi’raj. Bangunan ini merupakan suatu monumen yang bentuknya mirip dengan bentuk Basilika di Konstantinopel





Perkembangan Masjid di Indonesia

Istilah masjid mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak masuknya agama Islam di wilayah Nusantara. Banyak teori yang menunjukkan kapan Islam masuk ke wilayah Nusantara. Para sultan dalam membangun masjid-masjid yang cukup besar dan menonjol serta memiliki ragam arsitektur tertentu yang disesuaikan potensi dan kondisi setempat pada waktu itu, sebagian dari masjid-masjid tersebut kini masih bisa dijumpai di daerah-daerah seluruh Indonesia, seperti masjid Al Mashum sebagai salah satu peninggalan kerajaan Maemun di Sumatra Utara, masjid Pukau Rengat yang ada di Tanjung Pinang, masjid Agung Banten peninggalan sultan Hasanuddin di kabupaten Serang provinsi Banten (sekarang) dan lain-lain. Setelah itu muncullah berbagai bentuk arsitektur masjid yang secara berangsur-angsur menunjukkan perubahan yang sangat menentukan, sesuai dengan taraf dan kondisi perkembangan politik serta tingkat kemampuan teknologi masyarakat Islam. Masyarkat Indonesia dipandang dari aspek penyelenggaraan administrasi pemerintahan, maka susunannya terdiri atas Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar